Kalau dengar istilah open office atau kantor open space, mungkin yang langsung kebayang adalah satu ruangan besar dengan banyak meja kerja.
Padahal, ruang kerja terbuka bisa ditata dengan banyak cara.
Ada yang lebih rapi dan terstruktur, ada yang dibuat berdasarkan kelompok tim, sampai layout yang menggabungkan area terbuka dengan meeting room, lounge, atau phone booth.
Jadi sebelum menentukan workstation dan furniture yang akan digunakan, kenali dulu beberapa tipe penataan open workplace berikut.
Linear Workspace, Workstation yang Disusun Berjajar
Linear workspace adalah salah satu layout kantor open space yang paling mudah dikenali.
Workstation disusun memanjang dalam satu garis atau beberapa baris sejajar. Penataan seperti ini membuat area kerja terlihat rapi sekaligus membantu memaksimalkan penggunaan ruang.
Karena setiap workstation memiliki arah dan susunan yang relatif sama, tipe ini cocok untuk aktivitas kerja yang lebih terstruktur dan individual.
Cocok untuk:
Tim dengan jumlah pengguna cukup banyak, aktivitas administratif, atau perusahaan yang membutuhkan susunan workstation yang rapi dan efisien.
Yang perlu diperhatikan:
Jangan hanya fokus memasukkan sebanyak mungkin meja. Jarak antar workstation dan jalur sirkulasi tetap perlu direncanakan supaya area kerja tidak terasa terlalu padat.
2. Cluster Workspace, Area Kerja yang Dikelompokkan per Tim
Kalau linear workspace membentuk barisan panjang, cluster workspace membagi workstation menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil.
Satu cluster dapat digunakan oleh satu tim atau divisi tertentu, kemudian dipisahkan dengan jarak dari kelompok lainnya.
Susunan seperti ini membuat komunikasi antaranggota tim terasa lebih dekat tanpa harus menggunakan ruang tertutup.
Cocok untuk:
Creative team, marketing, project team, atau divisi yang sering membutuhkan koordinasi dan diskusi selama bekerja.
Apa bedanya dengan linear workspace?
Linear workspace menekankan susunan workstation yang kontinu dan sejajar, sedangkan cluster workspace menekankan pengelompokan pengguna berdasarkan tim atau aktivitas.
3. Collaborative Open Workplace, Bukan Cuma Duduk di Workstation
Nggak semua aktivitas kerja harus dilakukan di meja masing-masing.
Ada kalanya tim perlu brainstorming, diskusi cepat, atau berpindah ke suasana yang lebih santai untuk membicarakan pekerjaan.
Pada collaborative open workplace, area workstation dipadukan dengan collaborative corner, meja diskusi, lounge chair, atau furniture informal lainnya.
Hasilnya, pengguna punya lebih banyak pilihan tempat untuk bekerja sesuai aktivitas yang sedang dilakukan.
Cocok untuk:
Perusahaan dengan budaya kerja kolaboratif, creative office, project-based team, atau tim yang sering melakukan diskusi informal.
Tips:
Collaborative area tidak harus besar. Meja bundar dengan beberapa kursi atau lounge kecil di dekat workstation sudah cukup untuk menciptakan alternatif ruang diskusi.
4. Open Workplace with Support Spaces, Satu Lingkungan untuk Banyak Aktivitas
Open workplace tidak selalu hanya berisi workstation.
Dalam satu lingkungan kerja, area terbuka bisa dilengkapi dengan meeting room, pantry, lounge, storage, discussion area, atau fasilitas pendukung lainnya.
Dengan penataan seperti ini, pengguna tidak harus melakukan semua aktivitas di meja kerja.
Mau meeting, istirahat sebentar, berdiskusi, atau berpindah ke area yang lebih santai, masing-masing aktivitas bisa memiliki ruang yang lebih sesuai.
Cocok untuk:
Perusahaan dengan aktivitas yang beragam dan ingin menyediakan beberapa fungsi ruang dalam satu lingkungan kerja.
Gudang Furniture sendiri memiliki berbagai project office yang menggabungkan workstation dengan ruang pendukung seperti meeting area, lounge, pantry, dan furniture lainnya.
→ Lihat Portfolio Office Gudang Furniture
5. Hybrid Open Workplace, Terbuka tapi Tetap Punya Privacy
Ruang kerja terbuka memang membuat komunikasi terasa lebih mudah.
Tapi bukan berarti semua aktivitas harus dilakukan di area terbuka.
Online meeting, telepon penting, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, atau diskusi tertentu tetap membutuhkan area yang lebih privat.
Karena itu, hybrid open workplace menggabungkan open workstation dengan ruang tertutup seperti meeting room, focus area, atau office phone booth.
Tipe ini memberikan fleksibilitas karena pengguna bisa berpindah antara area terbuka dan privat sesuai kebutuhan.
Cocok untuk:
Perusahaan yang ingin menjaga keseimbangan antara kolaborasi dan kebutuhan fokus individual.
Gudang Furniture juga memiliki kategori Workstation serta Phone Booth Single dan Double Cabin yang dapat digunakan sebagai bagian dari penataan ruang kerja terbuka.

Jadi, Mana Layout yang Paling Cocok?
Nggak ada satu layout open workplace yang cocok untuk semua perusahaan.
Linear workspace bisa efektif untuk tim besar dengan pola kerja yang terstruktur, sementara cluster workspace lebih sesuai untuk tim yang membutuhkan komunikasi lebih intens.
Collaborative workplace cocok untuk perusahaan yang banyak melakukan diskusi, sedangkan hybrid workplace memberikan pilihan ruang ketika pengguna membutuhkan fokus atau privacy.
Bahkan dalam satu kantor, beberapa tipe tersebut bisa digunakan secara bersamaan.
Yang penting adalah memahami siapa yang menggunakan ruang, aktivitas apa yang paling sering dilakukan, dan bagaimana pengguna berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.
Karena pada akhirnya, merancang kantor open space bukan sekadar menentukan posisi meja.
Layout, sirkulasi, furniture, area kolaborasi, ruang pendukung, sampai kebutuhan privacy perlu dipikirkan sebagai satu kesatuan.
Melalui layanan Interior Design & Build, Gudang Furniture membantu mengembangkan kebutuhan ruang mulai dari konsultasi, concept design, pengembangan layout, technical drawing, produksi dan pengadaan, hingga build & installation.
Punya kebutuhan untuk merancang atau memperbarui ruang kerja kantor?
Temukan #SegudangSolusi untuk kebutuhan interior dan furniture bersama Gudang Furniture.
→ Lihat Portfolio Gudang Furniture
→ Konsultasikan kebutuhan Interior Design & Build
📞 0811 9778 856